Jumat, 12 Juli 2019

Ketua TP. PKK Muratara Pimpin FGD Bersama Dinkes Provinsi Sumsel. #Bahas Penanganan Stunting



MUARA RUPIT MSM.COM  - Ketua TP PKK Kabupaten Muratara, Lia Mustika Syarif memimpin Focus Group Discussion (FGD) bersama Dinkes Muratara dan Dinkes Sumsel.

FGD yang dilaksanakan di Op Room Setda Muratara, dihadiri perwakilan Dinkes Sumsel Bidang Kesehatan Kelaurga dan Gizi Masyarakat Yuliana Darlis didampingi Andi Susanto dan Rini Oktarina serta Kepala Dinkes Muratara Marlinda Sari.

"Jangan melihat angka lalu kita menjadi drop. Tapi jadikan motivasi dan penyemangat untuk merubah menjadi lebih baik" kata Lia Mustika Syarif.


Istri orang nomor satu di Bumi Beselang Serundingan ini menegaskan, sebagaimana jumlah kasus gizi buruk dan stunting di Kabupaten Muratara pada tahun 2019 sebanyak 86 kasus. Diharapkan jumlah tersebut menurun, bahkan nol walaupun itu mustahil. Tetapi tidak menutup kemungkinan  asalkan benar - benar dilaksanakan.

Sebab banyak program dalan mengentaskan masalah stunting. Mulai dari pemberian makanan bergizi tambahan, sosialisasi Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) maupun peningkatan peran Posyandu.

"Ada pemahaman pemerintah desa, kalau Posyandu tanggung jawab Puskesmas. Itu salah, karena puskesmas tanggung jawab kepala desa dahal hal ini ibu kades selaku ketua Kader Posyandu. Puskesmas hanya pendampingan" terangnya.


Menurut Lia Mustika, Dalam hal layanan kemasyarakat, setiap Puskesmas memilki satu ambulance, bahkan sekarang setiap desa ada ambulance khusus untuk pelayanan kesehatan.

"Setiap Petugas Puskesmas lakukan pelayanan kesehatan dengan pola jemput bola, atau mendatangi kerumah fasien langsung,"Sebutnya.

Lis Syarif juga menambahkan, dalam mengurangi stunting, adanya pemberian pemahaman akan program Keluarga Berencana (KB).


Petuah orang lama, Banyak anak banyak rezeki, walaupun bertentangan dengan program Keluarga Berencana (KB), dirinya setuju, asalkan terurus, kebutuhan jasmani dan rohani terpenuhi.


"Pepatah banyak anak banyak rezeki saya setuju, asalkan terurus, dan lebih bagus lagi ikut program KB, cukup dua anak, agat anak-anak tumbuh sehat dan berkualitas,"kata Lia Mustika Syarif.


Lia Syarif juga menegaskan, tidak mau jumlah AKI-AKB ada peningkatan, bahkan walaupun ada AKB-AKI."Saya tidak mau tidak dilaporkan, Memang Kabupaten Muratara, rendah dalam kesehatan, tapi itu menjadi memacu untuk berubah menjadi baik,"kata perempuan yang juga basic lulusan kebidanan ini.

Sementara, Kadinkes Muratara Marlinda menjelaskan, dalam menentukan penderita stunting, terlebih dahulu harus memiliki satu pemahaman, sebelum turun kelapangan. Hal itu untuk memperjelas mana yang masuk kategori stunting dan data yang didapatkan sesuai dengan kondisi dilapangan.


"Untuk kasus stunting atau AKB, AKI Harus dilaporkan, sakit atau meninggal, baik di Polindes, Puskesmas maupun di RSUD, Sebagai intruksi Ibu Ketua PKK, Jangan ada permasalahn gizi dilapangan yang ditutup-tutupi,"kata Marlinda.


Yudi salah petugas ahli gizi perwakilan Puskesmas Rupit, yang menaungi 19 Posyandu dari 16 Desa, 1 kelurahan,  dimana menurutnya, dalam kegiatan Posyandu sasaran terlalu banyak, 100-200 sasaran bayi, anak. sehingga terlalu bangak dibandingkan jumlah petugas. Selain itu kecakapan kader yang kurang.


Menurutnya, Posyandu yang punya desa, tapi tidak didukung dengan baik oleh Kades, terutama Kader Posyandu masing-masing.


"Kami harapkan adanya penegasan dari Pemerintah daerah, dalam hal ini dinas terkait agar penyaluran anggaran ke Posyandu dipenuhi untuk pemenuhan fasilitas dan penambahan kader Posyandu," sebutnya. (MJ)
Share:

Postingan Populer

Arsip Blog