![]() |
| Polda Sumatera Selatan mencatat 210.915 kegiatan pengamanan secara digital melalui Sistem Operasi Terpadu (SOT) selama periode 13 - 20 Maret 2026 |
PALEMBANG MSM.COM — Polda Sumatera Selatan
mencatat 210.915 kegiatan pengamanan secara digital melalui Sistem Operasi
Terpadu (SOT) selama periode 13–20 Maret 2026. Melalui sistem ini, Kapolda
Sumsel Irjen Pol Dr. Sandi Nugroho memantau 1.071 personel secara real-time,
menjadikan SOT sebagai fondasi komando modern Polri dalam pengamanan arus mudik
nasional.
Polda
Sumsel tidak hanya menggunakan SOT sebagai alat pelaporan. Sebaliknya,
institusi ini mengubah SOT menjadi pusat kendali operasi berbasis data.
Melalui
SOT, pimpinan dapat:
*
Memantau posisi personel secara langsung
*
Menganalisis situasi lapangan berbasis data
*
Mengambil keputusan secara cepat dan presisi
Selain
itu, fitur video call dan voice call memungkinkan pimpinan melakukan pengecekan
langsung ke titik pengamanan tanpa jeda.
Dengan
demikian, Polda Sumsel menghadirkan sistem komando yang real-time, terintegrasi
serta akuntabel
Lebih
dari sekadar inovasi daerah, implementasi SOT menunjukkan arah baru Polri dalam
membangun pengamanan berbasis digital secara nasional.
Dalam
konteks Operasi Ketupat 2026 yang digelar serentak oleh Mabes Polri, Polda
Sumsel tampil sebagai pelopor digitalisasi komando lapangan, model transparansi
operasional dan benchmark pengelolaan data real-time.
210.915
Kegiatan Bukti Nyata Kerja Lapangan. Selama sepekan, Polda Sumsel mencatat:
*
210.915 total kegiatan
*
210.455 kategori Low
* 459
kategori Medium
* 1
kategori High
Data
ini menunjukkan bahwa situasi kamtibmas terkendali, pengamanan berjalan aktif
dan masif serta seluruh aktivitas tercatat secara akuntabel.
Polres
Lahat mencatat 46.137 kegiatan, tertinggi di jajaran Polda Sumsel.
Selanjutnya:
*
Polres Lubuklinggau: 31.177 kegiatan
*
Polres Musi Rawas: 22.149 kegiatan
*
Polres OKU Timur: 18.852 kegiatan
Distribusi
ini menunjukkan bahwa Polda Sumsel:
*
Menempatkan personel berbasis kebutuhan wilayah
*
Menyesuaikan pengamanan dengan intensitas arus mudik
*
Mengelola operasi secara adaptif dan terukur
SOT
tidak hanya menyajikan angka, tetapi juga merekam aktivitas riil personel.
Sebagai
contoh Personel Polres OKU Timur melakukan pengaturan lalu lintas di Pos Yan
Gumawang, Personel Polrestabes Palembang melaporkan arus lancar di Bundaran
Masjid Agung dan juga Personel Polres Banyuasin mengendalikan kepadatan di
Simpang Betung.
Seluruh
laporan disertai foto, tervalidasi sistem dan dianalisis berbasis AI.
Kapolda
Sumsel menegaskan bahwa SOT adalah bagian dari transformasi Polri.
“SOT
bukan sekadar aplikasi. Ini adalah sistem komando berbasis data. Saya bisa
memantau seluruh personel dan situasi secara langsung. Ini memastikan setiap
keputusan diambil secara cepat dan tepat,” tegas Kapolda.
Kabid
Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menegaskan:
“Dengan
SOT, setiap kegiatan tercatat dan setiap personel terpantau. Ini standar baru
transparansi dan akuntabilitas Polri dalam pengamanan operasi,” ujarnya.
Ia
juga mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan Call Center 110 yang aktif 24
jam.
Implementasi
SOT memberikan dampak langsung Respons petugas lebih cepat, Penempatan personel
lebih tepat dan Pengamanan lebih merata.
Selain
itu, sistem ini mendorong profesionalisme karena setiap tindakan tercatat,
setiap personel terpantau dan juga setiap keputusan berbasis data.
Polda
Sumsel mengimbau masyarakat untuk Mematuhi arahan petugas, Mengikuti update
informasi resmi dan Melaporkan kondisi darurat ke 110.
Partisipasi
masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran mudik.
Keberhasilan
SOT mencatat lebih dari 210 ribu kegiatan dalam sepekan membuktikan bahwa Polri
telah memasuki era digital policing berbasis data real-time.
Melalui
implementasi ini, Polda Sumsel tidak hanya mengamankan wilayahnya, tetapi juga
menghadirkan standar baru pengamanan nasional, memperkuat transparansi
institusi serta membangun kepercayaan publik.
baca berita lainnya di google news
