![]() |
| Polemik seputar dugaan pembangunan pengamanan Sungai Rupit dengan anggaran Rp. 12 Milyar lebih yang ddiduga dibangun asal - asalan oleh oknum kontraktor, terus berlanjut |
MURATARA MSM.COM – Polemik
seputar dugaan pembangunan pengamanan Sungai Rupit dengan anggaran Rp. 12
milyar lebih terus berlanjut.
Teranyar,
legislatif di Kabupaten Musi Rawas Utara, propinsi Sumatera Selatan,kompak
enggan berkomentar. Diantara yang enggan berkomentar Ketua DPRD Musi Rawas
Utara, Devi Arianto, SH. MH dan Wakil Ketua I, Eksentrisitas Versace.
“Kalau
masalah itu, saya belum mau berkomentar. Kalau bisa jangan saya, ” Ucap Devi
Arianto kepada wartawan, usai memimpin rapat paripurna, Selasa (31/3/2026).
Hal
senada dikatakan Wakil Ketua I, Ekien Versace, diapun sama mengatakan jangan
sayalah yang berkomentar.
“Kalau
bisa jangan sayalah yang berkomentar. Tidak enak, ” Katanya.
Tidak
maunya kedua orang penting ini berkomentar menimbulkan dugaan ada yang mereka
sembunyikan terkait proyek pembangunan pengaman Sungai di Desa Lawang Agung,
Kecamatan Rupit, dengan anggaran Rp. 12 milyar lebih.
Dirasa
tidak mungkin keduanya tidak mengetahui ada pembangunan pengamanan Sungai Rawas
yang beraknya kurang lebih satu kilo dari kantor DPRD Kabupaten Musi Rawas
Utara.
Hasil
pantauan terbaru sebelum banjir melanda. Tiang penahan sungai yang sudah
ditanamkan tersebut diduga sudah banyak yang condong alias nyaris roboh.
Kondisi ini diperparah dengan cor beton penahan tiang sudah ada yang rusak.
Kemudian jarak antara kedua tiang sudah banyak yang renggang.
Parahnya
lagi saat pembangunan proyek tersebut pengambilan pasir tidak jauh dari lokasi
pembangunan proyek.
Jarak
pengambilan pasir dengan proyek sekitar satu meter. Hal itu tentu sangat
berdampak dengan tembok penahan tebing yang baru dipasang.
Penyedotan
pasir menggunakan mesin dompeng hanya berjarak kurang lebih dua meter.
Seorang
masyarakat, Hn membenarkan sebelum banjir tembok penahan tebing sudah banyak
yang condong nyaris roboh. Kemudian pengambilan pasir tidak jauh dari lokasi
pembangunan.
“Tentu
kami sebagai masyarakat banyak menemukan kejanggalan. Tapi mau komentar tidak
berani. Takut dikatakan kayak sangat mengerti bangunan, ” Pungkasnya. (**)
baca berita lainnya di google news
